Senin, 24 September 2012 Ditulis Oleh: Munzir Almusawa Sunday, 30 September 2012
عَنْ ابْنِ سِيرِينَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَبِيدَةَ، عِنْدَنَا، مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَصَبْنَاهُ، مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ، أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ فَقَالَ لَأَنْ تَكُونَ عِنْدِي شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
(صحيح البخاري)Dari Ibn Siiriin (ra) berkata, kukatakan pada Ubaidah (ra) aku memiliki sehelai Rambut Nabi SAW, kudapatkan dari Anas (ra) atau dari keluarga Anas (ra), maka ia berkata (Ubaidah ra): Jika kumiliki sehelai Rambut beliau SAW lebih kusukai dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Melimpahkan kemuliaan dan rahmatNya di setiap waktu kepada hamba-hambaNya yang beriman atau yang tidak beriman, kepada hamba-hambaNya yang shalih ataupun yang tidak, bahkan kepada semua makhluk yang di muka bumi selain manusia seperti hewan dan tumbuhan, atau makhluk-makhluk yang tidak bergerak seperti bebatuan, atau debu dan lainnya, sehingga kesemua makhluk yang berada di langit dan di bumi mengagungkan nama Yang Maha Luhur dan Mulia, maka janganlah kita menganggap benda-benda mati yang ada di muka bumi ini hanya sekedar benda mati yang tidak bergerak, akan tetapi kesemuanya berdzikir, memuji dan mengagungkan nama Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
( الإسراء : 44 )“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. ( QS.Al Israa: 44 ) Dan hal tersebut, telah ditemukan oleh para Ilmuwan di zaman ini yang mengatakan bahwa semua benda memilki suara, baik itu adalah benda hidup atau pun benda mati seperti hewan, tumbuhan atau bebatuan dan lainnya, kesemuanya memiliki frekuensi suara masing-masing, dan kesemuanya memilki suara namun sebagian suara tersebut tidak difahami dan tidak terdengar oleh manusia, yang mana suara-suara tersebut adalah pujian terhadap keagungan nama Allah, kesemua benda atau sesuatu yang tidak terdengar oleh kita frekuensi suaranya termasuk sel tubuh kita, sesungguhnya kesemuanya itu selalu memanggil dan menyeru namaNya di setiap waktu dan kejap, sehingga tidak pernah terlepas dari dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala. Akan tetapi banyak dari manusia yang kenyataannya mereka adalah makhluk hidup, justru mereka lalai dan lupa kepada Allah dikarenakan hati mereka yang mati, sehingga lebih mati dari benda-benda yang mati, karena benda-benda mati sebenarnya hidup dan senantiasa berdzikir dan memuji keagungan nama Allah subhanahu wata’ala. Maka selayaknyalah kehidupan di dunia yang sementara ini tidak dilewatkan dalam kelalaian dari mengingat Allah subhanahu wata’ala, serta berhati-hatilah dalam menjalani kehidupan dunia ini, sebagaimana di dalamnya terdapat anugerah dan musibah yang pasti akan dihadapi oleh manusia. Tidak ada kehidupan tanpa anugerah atau permasalahan, sehingga Allah subhanahu wata’ala menciptakan siang dan malam sebagai pelajaran kepada manusia bahwa kehidupan di dunia ini akan selalu terdapat perubahan dalam setiap waktu dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mampu merubah segala sesuatu. Sebagaimana perubahan yang terjadi pada jasad manusia, dimana setiap sel-sel di tubuh manusia tumbuh dan berkembang dalam setiap detiknya. Manusia tidak akan mampu mengatur perubahan dalam tubuhnya, tidak mampu mengatur detak jantung, tidak mampu mengatur pertumbuhan sel-sel di dalam tubuhnya, tidak mampu mengatur setiap nafas dan lainnya, namun Allah subhanahu wata’ala dengan mudah mampu mengatur hal-hal tersebut. Maka dalam setiap nafasnya manusia selalu berada dalam asuhan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala, sehingga Allah memberikan pengajaran kepada manusia dengan adanya alam dan segala yang ada di dalamnya serta sifat-sifatnya seperti air, tanah, api, udara, cahaya, kegelapan, serta sifat-sifat makhluk lain yang Allah ciptakan seperti malaikat, syaitan, binatang dan tumbuhan, Allah jadikan sifat-sifat tersebut ada dalam hati setiap manusia. Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi :
مَا وَسِعَنِيْ أَرْضِيْ وَلَا سَمَائِيْ وَلَكِنْ وَسِعَنِيْ قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ
“ Tidak dapat menampung-Ku (rahasia keluhuran Allah) bumi-Ku atau langit-Ku, akan tetapi mampu menampung-Ku hati hamba-Ku yang beriman”(bersambung) |
RINDU PADAMU YA RASUL
Jumlah Paparan Halaman
Rabu, 9 Januari 2013
Sehelai Rambut Rasulullah SAW
Rabu, 15 Februari 2012
Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian III
Penjelasan Bolehnya Membawakan Syair Pujian pada Nabi
SAW di Masjid &
Kemuliaan Makam Rasulullah SAW
Kemuliaan Makam Rasulullah SAW
Ditulis
Oleh: Munzir Almusawa Monday, 03 July 2006
Maha Suci Allah, Yang Membentangkan
Kerajaan Alam Semesta dengan Cahaya Kemegahan Nya, maka tegaklah Angkasa Raya
Langit dan Bumi sebagai Lambang Kesempurnaan Nya Yang Maha Tunggal dalam
Pengaturan, Maha Tunggal dalam Keabadian Maha Tunggal dalam Kesempurnaan, Maka
Gemuruhlah Kerajaan Alam Semesta sepanjang masa bertasbih Kehadirat Nya,
Menggema Angkasa Raya Mensucikan Nama Nya Yang Maha Luhur dari zaman ke zaman,
Dicipta Nya keturunan Adam untuk mencapai kehidupan yang Abadi, maka akan
musnahlah kerajaan Alam semesta menemui kefanaan, lebur dibawah Kehendak Nya
Yang Maha Menentukan, dan tersisalah Benua Kemewahan nan Abadi dan Benua
Kehinaan.
Dibangkitkan
Nya Pemimpin dari para Duta Nya dimuka Bumi, Sayyidina Muhammad saw,
sebaik-baik makhluk dan dipenuhi Nya dengan akhlak yang sempurna, satu-satunya
makhluk yang menjadi pemimpin bagi pembawa Cahaya Keridhoan Nya yang Abadi,
Maha Suci Allah swt yang menjadikan kecintaan pada Sang Nabi saw merupakan
kesempurnaan Iman kepada Nya, sebagaimana sabda beliau saw : “Tiada Sempurna Iman Kalian, sebelum aku
lebih dicintainya dari anak-anaknya, ayahnya dan seluruh manusia” (Shahih
Muslim).
Betapa besar
kecintaan para sahabat Radhiyallahuanhum kepada Nabi saw, sebagaimana makna
cinta, berarti selalu rindu pada yang dicintainya, selalu ingin bersama
kekasihnya, selalu tak ingin berpisah dengan kekasihnya, mencintai segala
miliknya, bahkan apa-apa yang disentuh oleh Rasul saw menjadi mulia dimata
mereka, sebagaimana riwayat Saib ra, : "aku
diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah..,
keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan
padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw,
lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw"
(Shahih Muslim hadits no.2345). Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra
bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata : “Kalau aku memiliki
sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala
isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168), Diriwayatkan pula bahwa Abu Talhah
adalah yang pertama kali mengambil rambut Rasul saw saat beliau saw bercukur
(Shahih Bukhari hadits no.169)
Tentunya
seorang yang dicintai akan selalu dipuji, tentunya seorang pecinta akan selalu
memuji kekasihnya, dan pujian bagi sang nabi saw boleh dimana saja, tidak
terkecuali di masjid, karena kecintaan pada Utusan Allah adalah kecintaan
kepada Allah, dan beliau saw sendiri yang bersabda bahwa cintailah aku karena
cinta kalian kepada Allah, dan dalam hadits beliau bersabda: “tiada sempurna iman kalian sebelum aku lebih dicintainya dari
anak-anaknya, dari ayahnya dan dari seluruh manusia” (Shahih Muslim hadits
no.44). bahkan Imam Muslim mengatakan bahwa
“Secara Mutlak seseorang itu tidak disebut beriman kalau ia tak mencintai Nabi
saw” (Shahih Muslim Juz 1 hal 67).
Hassan bin
Tsabit ra selalu memuji Rasul saw didalam masjid Nabawiy, maka ketika ia sedang
asyik bernasyid (nasyid, syair, qasidah, sama saja dalam bahasa arab yaitu
puji-pujian pada Allah dan Rasul saw), ia sedang melantunkan syair puji-pujian
pada Rasul saw, tiba-tiba Umar ra mendelikkan matanya kepada Hassan, maka
berkatalah Hassan bin tsabit ra : “Aku
sudah memuji beliau (saw) ditempat ini (masjid) dan saat itu ada yang lebih
mulia dari engkau (Rasul saw melihatnya dan tidak melarang)”, lalu berkata
pula Hassan kepada Abu hurairah ra yang juga ada bersama mereka : “Demi Allah bukankah Rasul saw telah berdoa
untukku : WAHAI ALLAH BANTULAH IA (hassan ketika membaca syair dihadapan Rasul
saw) DENGAN JIBRIL”. Maka Abu Hurairah berkata : “Betul”, maka Umar ra pun tak lagi berani mengganggunya. (Shahih
Bukhari hadits no.3040). riwayat yang sama pada Shahih Muslim hadits no.2485.
Maka
jelaslah sudah bahwa Rasul saw tidak melarang puji-pujian atas Allah dan Rasul
Nya di masjid, bahkan diriwayatkan bahwa Rasul saw menaruh sebuah Mimbar khusus
untuk Hassan bin Tsabit ra di Masjid, untuk ia membaca Syair memuji Allah dan
Rasul saw (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6058, 6059), dan ketika ada orang
yg tak menyukai Hassan, maka marahlah Ummulmukminin Aisyah ra, seraya berkata :
“Jangan kalian menghina Hassan, karena ia
selalu memuji Rasulullah saw” (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6063),
berkata Imam Hakim bahwa ucapan ini shahih memenuhi syarat Shahih Bukhari dan
Muslim.
Fahamlah
kita bahwa Puji-Pujian pada Rasul saw, yang diantaranya Qasidah, Maulid dll
merupakan hal yang dimuliakan oleh Rasul saw, bahkan Sayyidatuna Aisyah ra
marah ketika ada orang yang menghina orang yang memuji Rasul saw, maka ketika
di akhir zaman ini muncul kelompok yang mengharamkan puji-pujian pada Rasul saw
dan nasyid/qasidah di masjid, ini menunjukkan kesempitan pemahaman mereka dalam
Syariah Islamiyyah, memang betul ada hadits Rasul saw yang melarang membaca
syair-syair di masjid, namun itu adalah syair-syair keduniawian yang membuat
ummat lupa kepada Allah swt, bukanlah syair pujian atas Allah dan Rasul saw
yang memberi semangat kepada ummat untuk semakin taat kepada Allah swt.
bersambung
Selasa, 14 Februari 2012
Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian II
Dilengkapi Penjelasan Mengenai Tabarruk dan
Istighatsah
Ditulis
Oleh: Munzir Almusawa Friday, 05 May 2006
Dalam artikel ini Insya Allah saya akan terus
meluncurkan riwayat-riwayat mengenai Sang Nabi saw, untuk menambah pengetahuan
para pengunjung website ini dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw,
Perlu kita fahami bahwa wajah Sang Idola saw adalah wajah yang dipenuhi cahaya
kelembutan dan kasih sayang, karena beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian
alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw,
perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih
sayang Allah swt.
Dilengkapi
penjelasan mengenai Tabarruk dan Istighatsah
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa :
"Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim
(ajudan/pembantu) Madinah dengan Bejana-bejana mereka yang berisi air, maka
setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw
menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi
di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana
itu" (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada
beliau saw/ hadits no.2324).
Dari Anas ra : "Kulihat Rasulullah saw dan
pencukur rambut sedang mencukur rambut beliau saw, dan para sahabat
mengelilingi beliau saw, maka tak ada rambut yang terjatuh terkecuali sudah
didahului tangan mereka untuk mengambilnya" (Shahih Muslim Bab : keakraban
Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2325).
Dari Anas ra : "Ummu sulaim ra mengambil keringat
Rasul saw yang mengalir dengan handuk kulit dan memerasnya hingga mengalir
disebuah mangkuk ketika beliau saw sedang tidur, maka Rasul saw terbangun dan
berkata : "apa yang kau perbuat wahai Ummu Sulaim?", maka Ummu Sulaim
menjawab : "Kami ingin mengambil berkah untuk anak-anak kami Wahai
Rasulullah..", maka Rasul saw menjawab : "kau sudah mendapatkannya".
(Shahih Muslim Bab : "Wanginya keringat Nabi saw dan Tabarruk
dengannya", hadits no.2331 dan 2332).
Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa
para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw, mereka yang tak
mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang
sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian
juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503
dengan riwayat yang banyak).
Mengenai Tabarruk ini, sudah jelas dan tidak bisa
dipungkiri lagi bahwa Rasul saw tak pernah melarangnya, apalagi mengatakan
musyrik kepada yang melakukannya, bahkan para sahabat Radhiyallahu'anhum
bertabarruk (mengambil berkah) dari Rasul saw, mengambil berkah ini pada
dasarnya bukan menyembah, sebagaimana dituduhkan sebagian saudara kita
muslimin, tapi merupakan Luapan kecintaan semata terhadap Rasul saw dan itu
semua merupakan hal yang lumrah, sebagaimana kita membedakan air zam-zam dengan
air lainnya, mengapa?, bukankah itu sama saja dengan Tabarruk dengan air yang
muncul di perut bumi?, air zam-zam itu muncul dari sejak Bunda Nabiyallah
Ismail as dikunjungi Jibril as.
Riwayat-riwayat diatas adalah dalil jelas bahwa Tabarruk tidak dilarang oleh Rasul saw
bahkan sunnah.., bila ada sekelompok orang yang mengatakan Tabarruk itu hanya
pada Rasul saw maka bagaimana Rasul saw mengusap Hajarul aswad?, bagaimana
dengan air zam-zam yang diperebutkan muslimin dan dianggap berkhasiat ini dan
itu, Demi Allah belum pernah teriwayatkan para sahabat berebutan air zam-zam,
mereka memang minum air zam-zam, tapi mereka berebutan air wudhu bekas Rasul
saw, dan rambut beliau saw, bahkan keringat beliau saw, inilah luapan Mahabbah, pantas dan wajar saja
bila seorang kekasih menyimpan baju kekasihnya misalnya, baju usang tak berarti
itu sangat berarti bagi sang kekasih, maka istilah "dikeramatkan" dan
lain sebagainya itu pada hakikatnya adalah luapan Mahabbah pada orang-orang
shalih dan mulia, sebagaimana para sahabat bertabarruk dengan Rasul saw karena luapan Mahabbah (kecintaan) mereka pada
Nabi saw, bukan karena ia Muhammad bin Abdillah, tapi karena beliau adalah
Utusan Allah yang mengenalkan mereka kepada Hidayah dan kemuliaan, demikian
pula hingga kini orang-orang muslim bertabarruk karena luapan cinta mereka pada
gurunya yang bernama Kyai fulan misalnya, atau habib fulan, atau orang shalih
misalnya, semata mata bukan memuliakan diri si Kyai atau habib atau guru atau
si shalih, tapi semua itu disebabkan ia adalah orang yang membimbing mereka
pada Keridhoan Allah, atau karena mereka orang yang shalih dan banyak ibadah
kepada Allah, kalau mereka tak shalih (fasiq) niscaya tak akan ada yang mau
bertabarruk padanya, maka puncak asal muasal Tabarruk adalah Kemuliaan Allah
yang telah memilih hamba Nya fulan menjadi Guru atau Kyai atau Orang shalih,
karena ini semua dengan Izin Allah, sebagaimana firman Nya : "Sungguh
Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki Nya", dan ayat Lain :
"Tidaklah kalian memiliki keinginan (utk beristiqomah) kecuali telah
dikehendaki Allah Rabbul 'Alamien". (QS Al Kuwwirat).
Nah.. dari Kehendak Allah yang menentukan hamba ini
dimuliakan maka kita memuliakannya sebagaimana Allah memuliakannya, demikian
para sahabat terhadap Rasul saw, ah.. ternyata para sahabat benar-benar asyik
dengan idolanya, Idola termulia dari semua Idola sepanjang masa usia Bumi..,
kita tercengang-cengang dengan betapa besarnya luapan cinta para sahabat pada
Sang Nabi saw, dan ternyata Rasul saw pun memberi kesempatan pada para
pecintanya untuk bertabarruk dengan air wudhu beliau saw, dengan keringat
beliau saw, dan lainnya sesekali bukan karena beliau saw menghendakinya, namun
dari keluasan hati beliau saw yang memahami luapan cinta para sahabat beliau
saw, bila hal ini mungkar maka pastilah beliau melarangnya, dan bila hal ini dikhususkan
pada Rasul saw maka beliau saw akan menjelaskannya bahwa ini hanya kekhususan
bagi beliau saw sebagai Rasul saw dan tak boleh diikuti oleh selain beliau saw.
Mengenai Istighatsah,
yaitu memanggil manusia untuk minta pertolongan, maka hal ini telah diceritakan
oleh beliau saw bahwa kelak semua manusia ber Istighatsah kepada Adam as, lalu
kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw.., demikian dijelaskan dalam Shahih
Bukhari hadits no.1405, mengenai pendapat yang mengatakan bahwa Istighatsah
harus kepada orang yang dihadapannya maka pendapat ini tidak beralasan, karena
perbedaan jarak tak bisa menghalangi kemuliaan seseorang di sisi Allah swt,
saya bisa saja meminta pertolongan pada teman saya diluar negeri, atau minta
bantuan pada seorang berkuasa di negeri seberang yang tak saya kenali misalnya,
lewat email atau surat atau lainnya, ini sudah terjadi di masa kini, yaitu
hubungan antar negara, maka mustahilkah Allah menghubungkan hamba Nya yang
masih hidup dengan yang sudah wafat?, bukankah diwajibkan bagi kita menyolati
mayyit dan mendoakannya dengan Doa "Wahai Allah ampunilah dia, maafkanlah
dia, muliakanlah kewafatannya, luaskanlah kuburnya, dst didalam shalat
janazah?, bukankah hadits shahih muslim dan Bukhari menjelaskan bahwa orang
mati tersiksa di alam kubur karena jeritan orang yang menangisinya?, bukankah
ini menunjukkan ada hubungan antara yang hidup dan yang mati?, bukankah Rasul
saw mengatakan bahwa diperbolehkannya mengirim amal untuk orang yang sudah
wafat? (saebagaimana diriwayatkan dalam shahih Muslim), bukankah Allah
mengajari kita doa "Wahai Allah Ampunilah kami dan orang orang yang telah
mendahului kami dalam beriman..?".
Yang jelas, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
Istighatsah diatas, bahwa aku dan kalian dan seluruh manusia kelak di hari
kiamat akan melakukan Istighatsah.., yaitu kepada Adam as dan akhirnya kepada
Muhammad saw, mau tak mau, rela tak rela, apakah menganggapnya syirik atau
lainnya, namun Sayyidina Muhammad saw menjelaskan bahwa aku dan kalian dan
seluruh ummatnya kelak akan ber Istighatsah kepada beliau saw.
Alangkah Indahnya sang Nabi mulia ini, dan selama kita
mengakui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menjadi panutan kita, maka
lihatlah kecintaan sahabat radhiyallahu'anhum pada beliau saw, bahkan ketika
beliau wafat.., apa yang diperbuat oleh Khalifah kita Sayyidina Abubakar
Asshiddiq ra?, beliau menyingkap kain penutup wajah Rasulullah saw lalu memeluk
Jenazah beliau saw dan menciuminya seraya menangis dan berkata lirih :
"Demi ayahku, Engkau dan Ibuku, tak akan terjadi dua kali kematian
atasmu.. (maksudnya engkau tak akan merasakan sakitnya kematian lagi setelah
ini). Demikian diriwayatkan didalam Shahih Bukhari (hadits no.4187).
Mengapa Abubakar Ashiddiq ra bersumpah dengan ayah
ibunya dan Rasul saw?, dan berkata kata kepada Jenazah yang sudah wafat?,
mengapa pula ia menangis dan menciumi jenazah itu?, mengapa menciumi jenazah
orang yang sudah wafat sambil menangis?, adakah kita menemukan jawaban lain
selain luapan kecintaannya pada Muhammad Rasulullah saw?, alangkah cintanya
Abubakar Asshiddiq ra kepada Rasul saw, bahkan setelah wafat pun Abubakar
Asshiddiq masih menciumi jenazah beliau saw, Alangkah cintanya Umar bin Khattab
kepada Rasul saw hingga ia awalnya tak mau menerima kejadian wafatnya Rasul
saw..?, tak percaya, dan mengingkari wafatnya Rasul saw?, mengapa?, bodohkah
ia?, adakah jawaban lain selain besarnya kecintaan Umar bin Khattab ra pada
Nabi saw?,
Wahai Allah Yang Maha Memenuhi sanubari para sahabat
Nabi dengan kecintaan dan Asyik rindu pada Nabi Mu Muhammad saw.. Jadikan
sanubari kami diterangi pula kecintaan pada Nabi Mu Muhammad saw, dan
jadikanlah sanubari kami beridolakan Nabi Muhammad saw.. amiin..
(Bersambung)
Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian I
Dalam artikel ini Insya Allah saya akan terus
meluncurkan riwayat-riwayat mengenai Sang Nabi saw, untuk menambah pengetahuan
para pengunjung website ini dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw,
Perlu kita fahami bahwa wajah Sang Idola saw adalah wajah yang dipenuhi cahaya
kelembutan dan kasih sayang, karena beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian
alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw,
perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih
sayang Allah swt.
Seorang lelaki bertanya kepada Albarra bin
Azib ra : Apakah wajah Rasul saw seperti pedang? (bukankah beliau banyak berperang, apakah wajahnya bengis bak
penguasa kejam). Maka menjawablah Albarra bin Azib ra : Tidak.. tapi bahkan
wajah beliau bagai Bulan Purnama (kiasan tentang betapa lembutnya wajah
beliau yang dipenuhi kasih sayang) (Shahih Bukhari hadits no.3359, hadits
serupa Shahih Ibn Hibban hadits no.6287).
Diriwayatkan oleh Jabir bin samurah ra : wajah
beliau saw bagaikan Matahari dan Bulan (Shahih Muslim hadits no.2344,
hadits serupa pada Shahih Ibn Hibban hadits no.6297), demikian pula riwayat
Sayyidina Ali.kw, yang mengatakan : seakan akan Matahari dan Bulan beredar
di wajah beliau saw. (Syamail Imam Tirmidzi), demikian pula diriwayatkan oleh
Umar bin khattab ra bahwa Rasul saw adalah manusia yang bibirnya paling
indah.
Al Imam Alhafidh Syeikh Abdurrahman Addeba
mengumpulkan ciri ciri sang Nabi saw : Beliau saw itu selalu dipayungi oleh
awan dan diikuti oleh kabut tipis, hidung beliau saw lurus dan indah, Bibirnya
bagaikan huruf Miim (kiasan bahwa bibir beliau tak terlalu lebar tak pula
sempit dan sangat indah), Kedua alisnya bagaikan huruf Nuun, (kiasan bahwa alis
beliau itu tebal dan sangat hitam dan bersambung antara kiri dan kanannya).
Dari Abi Jahiifah ra : Para sahabat
berebutan mengambil telapak tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka,
ketika kutaruh telapak tangan beliau saw diwajahku ternyata telapak tangan
beliau saw lebih sejuk dari es dan lebih wangi dari misik (Shahih Bukhari
hadits no.3360).
Berkata Anas ra : Tak kutemukan sutra atau
kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak
kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw
(Shahih Bukhari hadits no.3368). Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih
menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw. (Shahih Bukhari hadits no.649
dan Muslim hadits no.419) Ketika perang Uhud wajah Rasul saw terluka dan
mengalirkan darah segar, maka putrinya yaitu Sayyidah Fathimah ra mengusap darah
tersebut dan Sayyidina Ali kw memegangi beliau saw, namun ketika terlihat darah
itu terus mengalir, maka diambillah tikar dan dibakar, maka debunya ditaburkan
diluka itu, maka darahpun terhenti. (Shahih Bukhari hadits no.2753).
Dari anas bin malik ra : Dan saat itu
dirumah hanya aku, ibuku dan bibiku, lalu selepas shalat beliau berdoa untuk
kami dengan kebaikan Dunia dan Akhirat, lalu Ibuku berkata : doakan pelayanmu
ini wahai Rasulullah.. (maksudnya Anas ra), maka Rasul saw mendoakanku dan
akhir doanya adalah : Wahai Allah Perbanyak Hartanya dan keturunannya dan
berkahilah (Shahih Muslim hadits no.660).
Dan beliau saw itu adalah manusia
yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya (Shahih Bukhari hadits no.3356) . Dan beliau saw itu adalah
manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling
berani (Shahih Bukhari hadits no.5686).
Dari Abu Hurairah ra : Wahai Rasulullah..,
bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak
kekhusyukan, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium
istri kami dan bercanda dengan anak anak kami (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304,
hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).
bersambung
Rabu, 1 Februari 2012
PADA SAAT ITU UMAR PUN MENANGIS
Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam.
Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan. Mengapa "singa padang pasir" ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku. Rasul yang mulia bertanya, "mengapa engkau menangis ya Umar?"
Umar menjawab, "bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera".
Nabi berkata, "mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya."
Langgan:
Catatan (Atom)

