Penjelasan Bolehnya Membawakan Syair Pujian pada Nabi
SAW di Masjid &
Kemuliaan Makam Rasulullah SAW
Kemuliaan Makam Rasulullah SAW
Ditulis
Oleh: Munzir Almusawa Monday, 03 July 2006
Maha Suci Allah, Yang Membentangkan
Kerajaan Alam Semesta dengan Cahaya Kemegahan Nya, maka tegaklah Angkasa Raya
Langit dan Bumi sebagai Lambang Kesempurnaan Nya Yang Maha Tunggal dalam
Pengaturan, Maha Tunggal dalam Keabadian Maha Tunggal dalam Kesempurnaan, Maka
Gemuruhlah Kerajaan Alam Semesta sepanjang masa bertasbih Kehadirat Nya,
Menggema Angkasa Raya Mensucikan Nama Nya Yang Maha Luhur dari zaman ke zaman,
Dicipta Nya keturunan Adam untuk mencapai kehidupan yang Abadi, maka akan
musnahlah kerajaan Alam semesta menemui kefanaan, lebur dibawah Kehendak Nya
Yang Maha Menentukan, dan tersisalah Benua Kemewahan nan Abadi dan Benua
Kehinaan.
Dibangkitkan
Nya Pemimpin dari para Duta Nya dimuka Bumi, Sayyidina Muhammad saw,
sebaik-baik makhluk dan dipenuhi Nya dengan akhlak yang sempurna, satu-satunya
makhluk yang menjadi pemimpin bagi pembawa Cahaya Keridhoan Nya yang Abadi,
Maha Suci Allah swt yang menjadikan kecintaan pada Sang Nabi saw merupakan
kesempurnaan Iman kepada Nya, sebagaimana sabda beliau saw : “Tiada Sempurna Iman Kalian, sebelum aku
lebih dicintainya dari anak-anaknya, ayahnya dan seluruh manusia” (Shahih
Muslim).
Betapa besar
kecintaan para sahabat Radhiyallahuanhum kepada Nabi saw, sebagaimana makna
cinta, berarti selalu rindu pada yang dicintainya, selalu ingin bersama
kekasihnya, selalu tak ingin berpisah dengan kekasihnya, mencintai segala
miliknya, bahkan apa-apa yang disentuh oleh Rasul saw menjadi mulia dimata
mereka, sebagaimana riwayat Saib ra, : "aku
diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah..,
keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan
padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw,
lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw"
(Shahih Muslim hadits no.2345). Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra
bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata : “Kalau aku memiliki
sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala
isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168), Diriwayatkan pula bahwa Abu Talhah
adalah yang pertama kali mengambil rambut Rasul saw saat beliau saw bercukur
(Shahih Bukhari hadits no.169)
Tentunya
seorang yang dicintai akan selalu dipuji, tentunya seorang pecinta akan selalu
memuji kekasihnya, dan pujian bagi sang nabi saw boleh dimana saja, tidak
terkecuali di masjid, karena kecintaan pada Utusan Allah adalah kecintaan
kepada Allah, dan beliau saw sendiri yang bersabda bahwa cintailah aku karena
cinta kalian kepada Allah, dan dalam hadits beliau bersabda: “tiada sempurna iman kalian sebelum aku lebih dicintainya dari
anak-anaknya, dari ayahnya dan dari seluruh manusia” (Shahih Muslim hadits
no.44). bahkan Imam Muslim mengatakan bahwa
“Secara Mutlak seseorang itu tidak disebut beriman kalau ia tak mencintai Nabi
saw” (Shahih Muslim Juz 1 hal 67).
Hassan bin
Tsabit ra selalu memuji Rasul saw didalam masjid Nabawiy, maka ketika ia sedang
asyik bernasyid (nasyid, syair, qasidah, sama saja dalam bahasa arab yaitu
puji-pujian pada Allah dan Rasul saw), ia sedang melantunkan syair puji-pujian
pada Rasul saw, tiba-tiba Umar ra mendelikkan matanya kepada Hassan, maka
berkatalah Hassan bin tsabit ra : “Aku
sudah memuji beliau (saw) ditempat ini (masjid) dan saat itu ada yang lebih
mulia dari engkau (Rasul saw melihatnya dan tidak melarang)”, lalu berkata
pula Hassan kepada Abu hurairah ra yang juga ada bersama mereka : “Demi Allah bukankah Rasul saw telah berdoa
untukku : WAHAI ALLAH BANTULAH IA (hassan ketika membaca syair dihadapan Rasul
saw) DENGAN JIBRIL”. Maka Abu Hurairah berkata : “Betul”, maka Umar ra pun tak lagi berani mengganggunya. (Shahih
Bukhari hadits no.3040). riwayat yang sama pada Shahih Muslim hadits no.2485.
Maka
jelaslah sudah bahwa Rasul saw tidak melarang puji-pujian atas Allah dan Rasul
Nya di masjid, bahkan diriwayatkan bahwa Rasul saw menaruh sebuah Mimbar khusus
untuk Hassan bin Tsabit ra di Masjid, untuk ia membaca Syair memuji Allah dan
Rasul saw (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6058, 6059), dan ketika ada orang
yg tak menyukai Hassan, maka marahlah Ummulmukminin Aisyah ra, seraya berkata :
“Jangan kalian menghina Hassan, karena ia
selalu memuji Rasulullah saw” (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6063),
berkata Imam Hakim bahwa ucapan ini shahih memenuhi syarat Shahih Bukhari dan
Muslim.
Fahamlah
kita bahwa Puji-Pujian pada Rasul saw, yang diantaranya Qasidah, Maulid dll
merupakan hal yang dimuliakan oleh Rasul saw, bahkan Sayyidatuna Aisyah ra
marah ketika ada orang yang menghina orang yang memuji Rasul saw, maka ketika
di akhir zaman ini muncul kelompok yang mengharamkan puji-pujian pada Rasul saw
dan nasyid/qasidah di masjid, ini menunjukkan kesempitan pemahaman mereka dalam
Syariah Islamiyyah, memang betul ada hadits Rasul saw yang melarang membaca
syair-syair di masjid, namun itu adalah syair-syair keduniawian yang membuat
ummat lupa kepada Allah swt, bukanlah syair pujian atas Allah dan Rasul saw
yang memberi semangat kepada ummat untuk semakin taat kepada Allah swt.
bersambung

