Dilengkapi Penjelasan Mengenai Tabarruk dan
Istighatsah
Ditulis
Oleh: Munzir Almusawa Friday, 05 May 2006
Dalam artikel ini Insya Allah saya akan terus
meluncurkan riwayat-riwayat mengenai Sang Nabi saw, untuk menambah pengetahuan
para pengunjung website ini dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw,
Perlu kita fahami bahwa wajah Sang Idola saw adalah wajah yang dipenuhi cahaya
kelembutan dan kasih sayang, karena beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian
alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw,
perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih
sayang Allah swt.
Dilengkapi
penjelasan mengenai Tabarruk dan Istighatsah
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa :
"Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim
(ajudan/pembantu) Madinah dengan Bejana-bejana mereka yang berisi air, maka
setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw
menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi
di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana
itu" (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada
beliau saw/ hadits no.2324).
Dari Anas ra : "Kulihat Rasulullah saw dan
pencukur rambut sedang mencukur rambut beliau saw, dan para sahabat
mengelilingi beliau saw, maka tak ada rambut yang terjatuh terkecuali sudah
didahului tangan mereka untuk mengambilnya" (Shahih Muslim Bab : keakraban
Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2325).
Dari Anas ra : "Ummu sulaim ra mengambil keringat
Rasul saw yang mengalir dengan handuk kulit dan memerasnya hingga mengalir
disebuah mangkuk ketika beliau saw sedang tidur, maka Rasul saw terbangun dan
berkata : "apa yang kau perbuat wahai Ummu Sulaim?", maka Ummu Sulaim
menjawab : "Kami ingin mengambil berkah untuk anak-anak kami Wahai
Rasulullah..", maka Rasul saw menjawab : "kau sudah mendapatkannya".
(Shahih Muslim Bab : "Wanginya keringat Nabi saw dan Tabarruk
dengannya", hadits no.2331 dan 2332).
Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa
para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw, mereka yang tak
mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang
sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian
juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503
dengan riwayat yang banyak).
Mengenai Tabarruk ini, sudah jelas dan tidak bisa
dipungkiri lagi bahwa Rasul saw tak pernah melarangnya, apalagi mengatakan
musyrik kepada yang melakukannya, bahkan para sahabat Radhiyallahu'anhum
bertabarruk (mengambil berkah) dari Rasul saw, mengambil berkah ini pada
dasarnya bukan menyembah, sebagaimana dituduhkan sebagian saudara kita
muslimin, tapi merupakan Luapan kecintaan semata terhadap Rasul saw dan itu
semua merupakan hal yang lumrah, sebagaimana kita membedakan air zam-zam dengan
air lainnya, mengapa?, bukankah itu sama saja dengan Tabarruk dengan air yang
muncul di perut bumi?, air zam-zam itu muncul dari sejak Bunda Nabiyallah
Ismail as dikunjungi Jibril as.
Riwayat-riwayat diatas adalah dalil jelas bahwa Tabarruk tidak dilarang oleh Rasul saw
bahkan sunnah.., bila ada sekelompok orang yang mengatakan Tabarruk itu hanya
pada Rasul saw maka bagaimana Rasul saw mengusap Hajarul aswad?, bagaimana
dengan air zam-zam yang diperebutkan muslimin dan dianggap berkhasiat ini dan
itu, Demi Allah belum pernah teriwayatkan para sahabat berebutan air zam-zam,
mereka memang minum air zam-zam, tapi mereka berebutan air wudhu bekas Rasul
saw, dan rambut beliau saw, bahkan keringat beliau saw, inilah luapan Mahabbah, pantas dan wajar saja
bila seorang kekasih menyimpan baju kekasihnya misalnya, baju usang tak berarti
itu sangat berarti bagi sang kekasih, maka istilah "dikeramatkan" dan
lain sebagainya itu pada hakikatnya adalah luapan Mahabbah pada orang-orang
shalih dan mulia, sebagaimana para sahabat bertabarruk dengan Rasul saw karena luapan Mahabbah (kecintaan) mereka pada
Nabi saw, bukan karena ia Muhammad bin Abdillah, tapi karena beliau adalah
Utusan Allah yang mengenalkan mereka kepada Hidayah dan kemuliaan, demikian
pula hingga kini orang-orang muslim bertabarruk karena luapan cinta mereka pada
gurunya yang bernama Kyai fulan misalnya, atau habib fulan, atau orang shalih
misalnya, semata mata bukan memuliakan diri si Kyai atau habib atau guru atau
si shalih, tapi semua itu disebabkan ia adalah orang yang membimbing mereka
pada Keridhoan Allah, atau karena mereka orang yang shalih dan banyak ibadah
kepada Allah, kalau mereka tak shalih (fasiq) niscaya tak akan ada yang mau
bertabarruk padanya, maka puncak asal muasal Tabarruk adalah Kemuliaan Allah
yang telah memilih hamba Nya fulan menjadi Guru atau Kyai atau Orang shalih,
karena ini semua dengan Izin Allah, sebagaimana firman Nya : "Sungguh
Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki Nya", dan ayat Lain :
"Tidaklah kalian memiliki keinginan (utk beristiqomah) kecuali telah
dikehendaki Allah Rabbul 'Alamien". (QS Al Kuwwirat).
Nah.. dari Kehendak Allah yang menentukan hamba ini
dimuliakan maka kita memuliakannya sebagaimana Allah memuliakannya, demikian
para sahabat terhadap Rasul saw, ah.. ternyata para sahabat benar-benar asyik
dengan idolanya, Idola termulia dari semua Idola sepanjang masa usia Bumi..,
kita tercengang-cengang dengan betapa besarnya luapan cinta para sahabat pada
Sang Nabi saw, dan ternyata Rasul saw pun memberi kesempatan pada para
pecintanya untuk bertabarruk dengan air wudhu beliau saw, dengan keringat
beliau saw, dan lainnya sesekali bukan karena beliau saw menghendakinya, namun
dari keluasan hati beliau saw yang memahami luapan cinta para sahabat beliau
saw, bila hal ini mungkar maka pastilah beliau melarangnya, dan bila hal ini dikhususkan
pada Rasul saw maka beliau saw akan menjelaskannya bahwa ini hanya kekhususan
bagi beliau saw sebagai Rasul saw dan tak boleh diikuti oleh selain beliau saw.
Mengenai Istighatsah,
yaitu memanggil manusia untuk minta pertolongan, maka hal ini telah diceritakan
oleh beliau saw bahwa kelak semua manusia ber Istighatsah kepada Adam as, lalu
kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw.., demikian dijelaskan dalam Shahih
Bukhari hadits no.1405, mengenai pendapat yang mengatakan bahwa Istighatsah
harus kepada orang yang dihadapannya maka pendapat ini tidak beralasan, karena
perbedaan jarak tak bisa menghalangi kemuliaan seseorang di sisi Allah swt,
saya bisa saja meminta pertolongan pada teman saya diluar negeri, atau minta
bantuan pada seorang berkuasa di negeri seberang yang tak saya kenali misalnya,
lewat email atau surat atau lainnya, ini sudah terjadi di masa kini, yaitu
hubungan antar negara, maka mustahilkah Allah menghubungkan hamba Nya yang
masih hidup dengan yang sudah wafat?, bukankah diwajibkan bagi kita menyolati
mayyit dan mendoakannya dengan Doa "Wahai Allah ampunilah dia, maafkanlah
dia, muliakanlah kewafatannya, luaskanlah kuburnya, dst didalam shalat
janazah?, bukankah hadits shahih muslim dan Bukhari menjelaskan bahwa orang
mati tersiksa di alam kubur karena jeritan orang yang menangisinya?, bukankah
ini menunjukkan ada hubungan antara yang hidup dan yang mati?, bukankah Rasul
saw mengatakan bahwa diperbolehkannya mengirim amal untuk orang yang sudah
wafat? (saebagaimana diriwayatkan dalam shahih Muslim), bukankah Allah
mengajari kita doa "Wahai Allah Ampunilah kami dan orang orang yang telah
mendahului kami dalam beriman..?".
Yang jelas, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
Istighatsah diatas, bahwa aku dan kalian dan seluruh manusia kelak di hari
kiamat akan melakukan Istighatsah.., yaitu kepada Adam as dan akhirnya kepada
Muhammad saw, mau tak mau, rela tak rela, apakah menganggapnya syirik atau
lainnya, namun Sayyidina Muhammad saw menjelaskan bahwa aku dan kalian dan
seluruh ummatnya kelak akan ber Istighatsah kepada beliau saw.
Alangkah Indahnya sang Nabi mulia ini, dan selama kita
mengakui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menjadi panutan kita, maka
lihatlah kecintaan sahabat radhiyallahu'anhum pada beliau saw, bahkan ketika
beliau wafat.., apa yang diperbuat oleh Khalifah kita Sayyidina Abubakar
Asshiddiq ra?, beliau menyingkap kain penutup wajah Rasulullah saw lalu memeluk
Jenazah beliau saw dan menciuminya seraya menangis dan berkata lirih :
"Demi ayahku, Engkau dan Ibuku, tak akan terjadi dua kali kematian
atasmu.. (maksudnya engkau tak akan merasakan sakitnya kematian lagi setelah
ini). Demikian diriwayatkan didalam Shahih Bukhari (hadits no.4187).
Mengapa Abubakar Ashiddiq ra bersumpah dengan ayah
ibunya dan Rasul saw?, dan berkata kata kepada Jenazah yang sudah wafat?,
mengapa pula ia menangis dan menciumi jenazah itu?, mengapa menciumi jenazah
orang yang sudah wafat sambil menangis?, adakah kita menemukan jawaban lain
selain luapan kecintaannya pada Muhammad Rasulullah saw?, alangkah cintanya
Abubakar Asshiddiq ra kepada Rasul saw, bahkan setelah wafat pun Abubakar
Asshiddiq masih menciumi jenazah beliau saw, Alangkah cintanya Umar bin Khattab
kepada Rasul saw hingga ia awalnya tak mau menerima kejadian wafatnya Rasul
saw..?, tak percaya, dan mengingkari wafatnya Rasul saw?, mengapa?, bodohkah
ia?, adakah jawaban lain selain besarnya kecintaan Umar bin Khattab ra pada
Nabi saw?,
Wahai Allah Yang Maha Memenuhi sanubari para sahabat
Nabi dengan kecintaan dan Asyik rindu pada Nabi Mu Muhammad saw.. Jadikan
sanubari kami diterangi pula kecintaan pada Nabi Mu Muhammad saw, dan
jadikanlah sanubari kami beridolakan Nabi Muhammad saw.. amiin..
(Bersambung)

Tiada ulasan:
Catat Ulasan